Senin, 10 Februari 2014

Bukan Sekedar Dibaca!


Ohayou Gozaimasu Minna!! Wohoo udah nyaris satu semester berada di perantauan, tentunya udah banyak juga kisah yang dilalui. Yaa berhubung masih dalam susasana libur perkuliahan, nggak ada salahnya dong kalau saya nyeritain apa-apa yang udah saya lalui selama hampir setengah abad tahun di perantauan. hehehe :D

Saya awali postingan ini dengan perkenalan diri. Ricky Dwi Bintanio, demikian nama yang diberikan orang tua saya 18 tahun silam. Saya berasal dari Tanjungpinang, sebuah ibukota di Provinsi Kepulauan Riau. Saat ini saya menetap di Pekanbaru, Kota berkuah bertuah tempat saya menimba ilmu di bangku kuliah.

Tahun ini adalah tahun pertama saya sebagai Mahasiswa di Universitas Riau (UR). Adapun program studi yang saya ikuti selama satu semester ini adalah Program Sarjana (S1) Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Adapun alasan saya memilih jurusan ini, sebab menurut saya lulusan sosiologi memiliki peluang yang cukup besar dalam mendapatkan pekerjaan—baik swasta maupun pemerintah. Selain itu, saya menjatuhkan pilihan di jurusan tersebut karena terinspirasi dari artikel sebuah blog yang memaparkan betapa asyiknya menjadi seorang sosiolog.

Menjadi seorang sosiolog merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan. Setiap hari kita akan menemukan harta karun hal-hal baru sebab di era globalisasi sekarang ini sering sekali kita melihat fenomena-fenomena sosial yang menuntut kita untuk peka dan kritis terhadap fenomena tersebut. Selain dituntut untuk peka dan kritis terhadap fenomena global, menjadi seorang sosiolog juga harus dibarengi dengan kepribadian yang sociable. Sebab dengan memiliki kepribadian sociable kita bisa terus menjaga interaksi sesama manusia karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang membutuhkan interaksi. Hal lain yang membuat saya tertarik dengan jurusan sosiologi ialah bahwasanya Pemerintah daerah dan sejumlah departemen seringkali membutuhkan disiplin sosiologi  untuk mempelajari kondisi dan kebutuhan masyarakat. Beberapa hal tersebutlah yang kemudian membuat saya tertarik. 

Pada kuliah semester pertama (2013), kecintaan saya di dunia sosial pun saya salurkan dengan bergabung di sebuah organisasi kemahasiswaan seperti BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) khususnya di Dinas Sosial dan Politik meskipun untuk mahasiswa semester satu baru menyandang sebagai tim aktif (magang), LSMI (Lembaga Studi Mahasiswa Islam) Almadani FISIP UR pada bidang syiar sebagai tim aktif (magang), kemudian IMS (Ikatan Mahasiswa Sosiologi), sebuah Himpunan Mahasiswa jurusan Sosiologi di Universitas Riau (UR) untuk bidang sosial, serta IMTA (Ikatan Mahasiswa Tanjungpinang), sebuah organisasi kemahasiswaan yang terdiri dari Mahasiswa-Mahasiswi Tanjungpinang yang menetap di kota Pekanbaru, dimana dalam organisasi tersebut saya ditempatkan pada posisi sekretaris bidang PSDM (Pemberdayaan Sumber Daya Manusia). Saya sangat bersyukur bisa bergabung di empat organisasi/himpunan Mahasiswa tersebut. Banyak hal yang saya dapat dan pelajari, sehingga peran saya sebagai mahasiswa lebih optimal—tidak hanya memperoleh ilmu dari dosen, namun juga dari pengalaman-pengalaman saya di lapangan. 

Seiring berjalannya waktu, hal yang saya impikan ketika saya resmi menyandang gelar ‘S.Sos’ setelah menamatkan kuliah kira-kira ± 3,8 tahun adalah menjadi Social Analytic ataupun Akademisi Sosiologi. Mengapa? Pertama, saya senang melihat fenomena-fenomena global yang sedang maupun sudah terjadi. Kedua, menurut saya Social Analytic dan akademisi merupakan sebuah profesi yang berimbang—kita memahami teori dan kita juga menguasai bagaimana praktiknya. Sehingga saat kita sharing ilmu kepada seseorang kita bisa menyampaikannya dengan lebih maksimal. Namun, di antara keduanya, menjadi akademisi merupakan pilihan yang paling utama. Saya ingin menjadi tenaga pendidik (dosen) sosiologi khususnya pada konsentrasi antropologi. Hal tersebut saya rasakan ketika di semester satu ini. Saya menemukan khasanah keilmuan yang menarik pada disiplin ilmu tersebut.
Keinginan saya menjadi tenaga pendidik tentunya tidak terlepas dari kondisi kampus tempat saya menimba ilmu. Pertama dari segi dosen. Saya terinspirasi dari salah seorang dosen di kampus saya yang memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi dan cara mengajarnya yang tidak kaku, santai dan bisa membuat para Mahasiswa enjoy di ruang kelas. Hal tersebutlah yang mendorong saya untuk bisa seperti atau lebih baik dari beliau.

Kedua, jumlah dosen antropologi di Jurusan Sosiologi masih sangat minim. Bahkan pernah saya berbincang-bincang dengan dosen yang saya sebutkan diatas, Dosen yang bersangkutan pun juga mengeluhkan minimnya tenaga pendidik di bidang antropologi.
Nah, beberapa hal di ataslah yang membuat saya semangat dan yakin. Saya ingin berpartisipasi memajukan kualitas pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik nantinya. Saya ingin menanamkan konsep belajar mengajar yang lebih baik dari sekarang.
S2 merupakan syarat utama menjadi dosen. Hal inilah yang akan saya lakukan untuk menggapai cita-cita tersebut. Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta, dikenal memiliki kualitas yang baik. Target saya adalah setelah lulus S1 (maksimal Oktober 2017) saya akan melanjutkan studi saya di jurusan dan universitas tersebut. Selambat-lambatnya awal tahun 2019 saya telah menamatkan Magister saya.

Sementara itu, langkah-langkah yang telah dan sedang saya lakukan untuk menjadi tenaga pendidik yakni mempersiapkan biaya untuk melanjutkan S2. Menurut informasi yang saya peroleh dari dosen yang pernah kuliah di UGM, biaya kuliah di sana per semesternya kira-kira Rp7juta, sehingga saya menargetkan biaya kuliah dan biaya terkait lainnya selama dua tahun sebesar Rp40juta. Saya menyadari biaya dari orang tua tidak bisa diharapkan seutuhnya karena masih ada abang dan adik-adik yang juga lebih membutuhkan biaya pendidikan. Oleh karena itu, sedikit demi sedikit biaya untuk kuliah S2 sedang saya tabung. Selain itu, informasi terkait dengan program pascasarjana S2 UGM  juga selalu saya kumpulkan, baik dari dosen maupun via internet.

Aktifitas dalam berorganisasi seperti yang saya sebutkan diatas juga sudah mulai saya lakukan sejak semester satu hingga saat ini. Serta berbagai persiapan dalam menambah pengalaman menjadi tenaga pendidik. Nah, pengalaman-pengalaman itulah yang saya jadikan bekal. Setidaknya pengalaman tersebut dapat saya share kepada para mahasiswa saya nantinya. Sehingga teori yang saya berikan memang berdasarkan pengalaman real saya saat di lapangan. Meski demikian, saya sadar pengalaman saya memang belum cukup. Namun, saya akan terus belajar dan berusaha.