Rabu, 16 Oktober 2013

Kosong


Buah pikir Aminati, @aimemoloy

Kosong tidak selalu harus diisi. Ini bukan sajak atau puisi. Hanya beberapa kalimat yang datangnya dari hati. Mungkin tidak memiliki arti, juga tidak menuntut untuk dimengerti karena ini bukan akuntansi. Ini juga bukan tentang percintaan karena ini tidak butuh pembuktian juga pemaknaan. Sekali lagi, ini hanya tentang kekosongan. Beberapa orang menyebutnya kesendirian. Terserah saja, tidak ada pengekangan pikiran, apapun pendapat orang dibebaskan. Lagipula ini hanya tulisan.
Kosong tidak untuk dijelaskan. Kosong hanya bisa dirasakan. Entahlah, tapi kadang rasanya memuakkan. Ingin dimuntahkan tapi malah tertelan. Membuat semuanya terasa menjijikkan sekaligus membosankan. Tapi kosong tidak bisa disalahkan, karena kosong tidak meminta untuk diciptakan. Kosong ada karena kepergian atau kehilangan atau kerinduan atau kenangan. Kenangan? Sialan.
Kosong kadang membuat jengah. Sama seperti pelajaran sejarah. Hanya saja kosong bukanlah pelajaran sekolah. Kosong tidak akan bisa disandingkan dengan “adalah”. Mungkin kosong harus dihadapi dengan pasrah. Percuma saja mengharap kosong untuk musnah, karena kosong tidak berwujud apalagi berdarah. Kosong ya kosong, begitulah.
Kau bilang kosong-ku ini datangnya dari masa lalu. Tapi kau tak punya bukti untuk itu. Kau hanya bicara tanpa berpikir dulu. Bukankah kau selalu begitu? Membuat persepsi sesuka hatimu. Seenak jidatmu. Memangnya apa jidatmu seenak itu, sampai kau tak pernah menghentikan kebiasaanmu? Tapi tenang saja, aku tak akan menyalahkanmu. Kosong ini milikku dan bukan ciptaanmu. Aku sedang berusaha menikmati dan yang harus kau lakukan adalah tidak mengganggu. Urus saja urusanmu. Atau sibukkan diri dengan wajahmu yang tak tampan itu. Kurasa itu lebih bermanfaat untukmu.
Yang harus kau tahu, aku memang menukar harapan dengan kekosongan. Aku lebih memilih mengosongkan kehidupan daripada mencemarinya dengan harapan. Itu agak berlebihan tapi lebih menyenangkan, ketimbang harus bersusah payah menanggung penderitaan. Aku muak menjadi budak perasaan. Aku harus lebih tegas, sudah bosan manut lantas menyiksa pikiran. Aku memang tidak sedang bergelimang kebahagiaan tapi setidaknya juga tidak hanyut dalam kesedihan. Seperti kataku, aku sedang menikmati kekosongan dan tidak mengharap gangguan.
Kosong tidak selalu harus diisi. Ini bukan sajak atau puisi. Hanya beberapa kalimat yang datangnya dari hati. Mungkin tidak memiliki arti, juga tidak menuntut untuk dimengerti karena ini bukan akuntansi. Ini juga bukan tentang percintaan karena ini tidak butuh pembuktian juga pemaknaan. Sekali lagi, ini hanya tentang kekosongan. Beberapa orang menyebutnya kesendirian. Terserah saja, tidak ada pengekangan pikiran, apapun pendapat orang dibebaskan. Lagipula ini hanya tulisan.
Kosong tidak untuk dijadikan teman. Kosong tidak pernah menuntut senyuman. Kosong juga tidak pernah menjanjikan kepergian, kecuali ada yang menggantikan. Ya, setidaknya kosong memiliki kesetiaan.
Kau, curilah sesuatu dari kekosongan.